Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Bener Meriah Mencapai 507 Jiwa

09-10-2019 10:49:55


Redelong- Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di kabupaten Bener Meriah mencapai 507 orang penderita dan gangguan jiwa berat sebanyak 415 orang.  Hal tersebut diungkapkan Hasminarty, Ketua Panitia pelaksana dalam Rapat Koordinasi Tim Pelaksanaan Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM), Selasa, (8/10/2019) di Aula Sekdakab Bener Meriah.

Hasminarty menyampaikan pasien ODGJ menyebar di 10 kecamatan se-Kabupaten Bener Meriah. Dari data yang dihimpun pihaknya, orang yang mengalami gangguan jiwa terbanyak di Kecamatan Bandar. Mungkin karena kecamatan tersebut memiliki penduduk yang terbanyak dari kecamatan lainnya.

Rapat Koordinasi TPKJM tersebut digelar oleh Pemerintah Kabupaten Bener Meriah melalui Bidang Kemasyarakatan (Kesmas). Sedikitnya 105 peserta hadir. Terdiri dari perwakilan sepuluh Puskesmas dari sepuluh kecamatan di Kecamatan, pengurus TPKJM Aceh, anggota DPRK Bener Meriah, para Kapolsek dalam wilayah Kabupaten Bener Meriah, Kabag Hukum, Kabag Ekonomi, perwakilan dari kecamatan, keluarga korban,  dan perwakilan OPD.

Mewakili Bupati Bener Meriah, Asisten II Abdul Muis, SE. MT dalam sambutannya menyampaikan TPKJM merupakan suatu wadah yang berperan serta menanggulangi berbagai masalah kejiwaan yang terjadi dalam masyarakat karena berbagai macam akibat, misalnya korban konflik, korban KDRT dan korban penyalahgunaan narkotika serta akibat lainnya.

Ia menyampaikan ahwa kesehatan jiwa masih menjadi permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data WHO tahun 2016, terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta orang terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena demensia.

Masalah psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang.

Menurut Abdul Muis, berbagai masalah kejiwaan yang terjadi pada masyarakat karena bermacam akibat, misalnya korban konflik, KDRT, dan penyalahgunaan narkotika. 

Gangguan jiwa sangat beragam jenisnya, mulai yang ringan hingga akut. Informasi yang akurat dari pihak keluarga akan sangat membantu para tenaga layanan kesehatan jiwa, untuk melakukan diagnosa dan menentukan perawatan yang tepat pagi pasien ODGJ tersebut.

Lanjutnya, keluarga sebagai unit terkecil masyarakat, harus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan jiwa anggota keluarganya dan menjadi pihak yang memberikan pertolongan pertama psikologis, apabila tampak gejala-gejala yang mengarah pada masalah kesehatan jiwa. 

“Sebagai pemerintah, kita juga harus berupaya menjalankan program kegiatan pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan jiwa untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang memiliki karakter berkualitas, untuk itulah pentingnya rapat koordinasi Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) di Kabupaten Bener Meriah,” ujarnya.

Pihaknya berharap, kegiatan pembinaan TPKJM tersebut nantinya mampu mensinergikan penanganan ODGJ antar-lintas sektor serta terwujudnya penanganan kesehatan jiwa sesuai visi dan misi Kabupaten Bener Meriah tersebut.* (gn/fa).

Facebook Fans Page